28 Juli 2013

Kesabaran Anne Sullivan

Kesabaran Anne Sullivan membuahkan perubahan dalam hidup Helen Keller. Bukan hal yang mudah membimbing seorang anak buta dan tuli yang sulit diatur.

Film The Miracle Worker memperlihatkan betapa sulitnya menangani Helen kecil. Tidak ada yang berani menegur atau memarahinya jika ia melakukan kesalahan. Untuk meredam kemarahan Helen, ibunya malah memberinya permen.

Nona Sullivan muncul sebagai guru Helen. Perlu kerja keras dan kesabaran untuk mengajari Helen kata-kata dan sopan santun. Sullivan tidak menyerah.

Ia sangat mengasihi Helen dan ingin muridnya itu berubah. Berkat dukungan keluarga Helen, yang semula sempat menolak cara Sullivan, ia berhasil mengajari Helen berkomunikasi.

Ia terus mendampingi Helen seumur hidupnya. Helen nantinya lulus dari Radcliffe College dengan gelar kehormatan dan menjadi penulis, aktivis politik, dan dosen.

Anne Sullivan sedang memberi pelajaran tentang pompa air (manual / tangan) kepada Helen Keller.

Sering kita cepat menyerah ketika melihat orang yang kita kasihi bertingkah seenaknya. Kita menjauh dan tidak memedulikannya lagi.

Salah satu aspek dari kasih adalah kesabaran. Arti dari kata sabar ini adalah: tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tabah, dan tetap tenang.

Kita pasti berhadapan dengan banyak hal yang bertentangan dengan harapan kita. Tuhan akan mempertemukan kita dengan orang yang, untuk menghadapinya, menuntut kesabaran kita.

Jika kita tidak cepat menyerah, kondisi tersebut merupakan kesempatan yang bagus untuk melatih kesabaran kita. Mintalah kekuatan dari Tuhan, sumber kesabaran kita.

Orang sabar tidak melarikan diri saat ada tantangan, melainkan menggunakannya sebagai kesempatan melatih diri.

* * *

Penulis: Istiasih | e-RH, 28/7/2013

(diedit sedikit)

==========

22 Mei 2013

Tua, Siapa Takut?

Tidak sedikit orang yang takut menjadi tua. Mereka menempuh berbagai cara untuk menundanya, mulai dari minum jamu tradisional sampai menjalani operasi plastik.

Menjadi tua diidentikkan dengan kelemahan dan keterbatasan, masa yang tidak produktif. Orang tua juga dapat dilanda perasaan tidak dibutuhkan lagi. Masa tua menjadi bayangan yang menggentarkan.


Pemazmur juga mengalami ketakutan itu. Ia pun memohon agar Tuhan tidak membuang dan meninggalkannya. Ia khawatir hidupnya menjadi hampa jika Tuhan tidak lagi peduli kepadanya. Ia menantikan pertolongan dan perlindungan Tuhan dari musuh dan tantangan hidup yang muncul pada masa tuanya.

Ya, tantangan hidup pada masa tua bisa jadi semakin kompleks, bukannya semakin mudah. Betapa menggentarkan jika kita harus menghadapinya seorang diri. Syukurlah, pemazmur mendapati bahwa Allah setia menyertainya sampai masa putih rambutnya (Mazmur 71).

Tentunya ada di antara kita yang tengah bergumul seperti itu. Kita cemas menyongsong masa tua. Obat penawar yang paling ampuh adalah dengan memandang kepada Tuhan: bahwa Dia senantiasa menyertai kita.

Dari situ kita dapat belajar melihat sisi indah masa tua. Oleh penyertaan-Nya, kita dapat terus berbuah dan berkarya bagi kerajaan-Nya, dengan cara yang berbeda, dengan cara yang unik, yang tidak dapat ditawarkan oleh mereka yang lebih muda.

Bukankah telah banyak pengalaman dan hikmat yang Tuhan singkapkan kepada kita, yang dapat kita bagikan kepada generasi berikutnya?

Allah adalah Allah yang kekal. Apa sulitnya Dia menyertai kita sepanjang hayat?

* * *

Penulis: Intan Grace | e-RH, 22/5/2013

(diedit seperlunya)

==========

16 Mei 2013

Mengapa atau Siapa

Ketika sesuatu berjalan tak seperti yang diharapkan, semuanya menjadi salah, atau terjadi kegagalan, maka kecenderungan alami manusia adalah mencari seseorang yang bisa disalahkan.

Bahkan sejak dari Taman Eden. Ketika dosa terjadi, Adam menyalahkan Hawa. Hawa menyalahkan ular.

Apabila seseorang gagal menyelesaikan pekerjaan sesuai batas waktu yang ditetapkan, apa yang biasanya ia lakukan? Secara refleks ia akan menudingkan jarinya ke orang lain. Atau, kalau tidak ada orang lain, ia akan menudingkan jarinya pada situasi yang di luar kekuasaannya.


Kita akan lebih cepat berkembang apabila tak punya kebiasaan melimpahkan kesalahan kepada orang lain.

Ketika Anda gagal, pikirkan MENGAPA Anda gagal, bukan SIAPA yang salah. Pandang situasi dengan objektif supaya lain kali kita bisa lebih baik.

Bob Biehl menganjurkan daftar pertanyaan untuk membantu menganalisis kegagalan: 1. Pelajaran apa yang saya petik?; 2. Apakah saya berterima kasih atas pengalaman ini?; 3. Siapa lagi yang telah gagal seperti ini sebelumnya, dan bagaimana orang itu bisa menolong saya?; 4. Apakah saya gagal karena seseorang, karena situasi, atau karena diri sendiri?; 5. Apa saya benar-benar gagal, atau saya mengejar standar yang terlalu tinggi?

Orang yang menyalahkan orang lain atas kegagalan mereka takkan pernah mengatasinya.

Untuk mencapai potensi dan karakter yang diinginkan Tuhan, kita harus terus memperbaiki diri. Kita tak dapat melakukannya jika tidak mengambil tanggung jawab atas perbuatan kita dan belajar dari kesalahan.

Bukankah Tuhan tak pernah menolak mengampuni saat kita bersalah? Mengapa kita tidak berani mengaku dengan jujur?

Saat Anda berbuat kesalahan dan gagal, tanyakan mengapa, bukan siapa.

* * *

Penulis: PK | e-RH, 5/10/2011

(diedit seperlunya)

==========

12 Mei 2013

Wes Moore

Pada Desember 2000, surat kabar Baltimore Sun memuat berita tentang Wes Moore, siswa teladan penerima beasiswa Rhodes.

Uniknya, dalam koran yang sama, termuat pula berita lain tentang anak-anak muda yang menjadi buronan karena membunuh polisi. Dan, salah satu pemuda pembunuh itu juga bernama Wes Moore; sama namanya, tetapi beda orangnya.

Kini Wes Moore yang pertama terus berprestasi di masyarakat dan menjadi pemimpin bisnis yang berhasil. Tragisnya, Wes Moore yang kedua kini menjalani hukuman seumur hidup karena kejahatannya.

Nama dua orang ini persis sama. Mereka berasal dari kota yang sama, lingkungan yang sama kerasnya, dan sama-sama kehilangan ayah sejak kecil.

Wes Moore yang pertama (kiri), dan Wes Moore yang kedua (kanan, dipotret di penjara).

Dua kehidupan yang sangat mirip ketika muda, tetapi bisa sangat berbeda di masa depan. Ini karena keluarga Wes Moore yang pertama berusaha memilihkan "jalan kehidupan" baginya.

Kakek neneknya merelakan rumah mereka dijual agar Moore dapat disekolahkan di sekolah militer yang mengasah karakter dan kepribadiannya.

Tragedi dalam kehidupan bisa terjadi ketika orang mengabaikan hikmat dari Tuhan tentang bagaimana menjalani hidup. Yakni ketika orang "berpaling dan tidak mau mendengar" Tuhan, bahkan "mau disesatkan" untuk mengikut jalan yang di luar kehendak Tuhan.

Dalam hidup ini ada dua pilihan besar yang harus diputuskan: kehidupan dan keberuntungan, atau kematian dan kecelakaan (Ulangan 30:15).

Orang yang memilih untuk mengasihi Tuhan dan hidup menurut jalan-Nya, sudah jelas masa depannya: "supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu" (Ulangan 30:19). Mari memilih jalan kehidupan! —AW

Hidup manusia tidak bergantung pada nasib, tetapi pada pilihannya untuk berpaut kepada Tuhan atau tidak.

* * *

Sumber: e-RH, 27/9/2011

(diedit seperlunya)

==========

08 Mei 2013

Jangan Gegabah

Pada tahun 1930-an, untuk mengatasi wabah kumbang perusak tanaman tebu di Australia, pemerintah setempat dengan gegabah mengimpor sejenis katak khas Amerika Latin tanpa memikirkan dampak lingkungannya.

Keputusan ini ternyata bukan hanya gagal menyelesaikan masalah yang dihadapi, malah kemudian menjadi masalah besar bagi Australia hingga saat ini. Sebab, katak-katak ini berkembang biak tanpa bisa dikontrol dan mengganggu keseimbangan ekosistem di sana.

Keputusan yang gegabah cenderung menimbulkan masalah yang tidak perlu. Hal serupa juga pernah terjadi pada bangsa Israel dalam masa pemerintahan Raja Saul (1 Samuel 14:24-35).

Saat itu bangsa Israel sedang berperang melawan orang Filistin. Dalam keadaan terdesak, Saul memaksa semua orang berpuasa. Ini tentu keputusan yang aneh, sebab bagaimana bangsa itu bisa berperang dengan tangguh jika mereka lapar dan haus?

Raja Saul

Selanjutnya, meski Tuhan memberi kemenangan, akibat rasa lapar yang diderita orang Israel karena titah Saul, mereka merayakan kemenangan dengan cara yang tidak pantas (ayat 32). Tindakan gegabah ini akhirnya menjadi salah satu catatan buruk dalam sejarah pemerintahan Raja Saul.

Setiap kali kita hendak berkata-kata, bertindak, apalagi mengambil keputusan, ambillah waktu untuk memikirkan dan mempertimbangkan dengan matang.

Pikirkan tujuan dan akibat tindakan tersebut, dampaknya bagi diri kita sendiri, orang lain, masyarakat, khususnya bagi Tuhan. Dengan demikian, akan ada banyak masalah, kesulitan, dan tragedi yang bisa kita hindarkan.

Berpikirlah sebelum bertindak, sebab gegabah hanya mendatangkan musibah.

* * *

Penulis: ALS | e-RH, 21/9/2011

(diedit seperlunya)

==========

04 Mei 2013

Kesalahan dapat Menjadi Berkat

Saya pernah melakukan sebuah kesalahan fatal: mengisikan solar ke mobil berbahan bakar premium.

Akibat kesalahan tersebut, tangki bensin mobil itu harus dikuras dan dicuci. Sejak pengalaman tak menyenangkan tadi, saya lebih berhati-hati ketika mengisi bahan bakar.


Manusia memang tak luput dari kesalahan, entah itu sepele atau fatal. Kesalahan-kesalahan yang kita lakukan dalam hidup ini bisa mengakibatkan kegagalan, bahkan kehancuran.

Ajaibnya, di tangan Tuhan, keadaan bisa menjadi sangat berbeda. Sebab, apabila Tuhan berkehendak, Dia sanggup mengubah sebuah kesalahan menjadi berkat.

Seperti yang terjadi dalam kehidupan (Nabi) Yunus. Yunus telah bersalah kepada Tuhan saat ia lari dari perintah Tuhan.

Akibatnya, ketika berlayar di tengah samudra, ia dikejar oleh badai gelombang yang menakutkan. Akan tetapi, dalam 'langkah salah' Yunus tersebut, Tuhan sanggup berbuat sesuatu.

Selain memberi teguran kepada Yunus, Tuhan pun membukakan mata para awak kapal, sehingga mereka percaya kepada Tuhan yang benar dan hidup.

Tuhan sanggup mengubah kesalahan menjadi berkat. Bahkan tak hanya untuk kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Namun demikian, bukan berarti kita boleh seenaknya berbuat kesalahan di hadapan Tuhan.

Justru pada saat-saat demikian, kita mesti mengakui dan menyerahkan segala kesalahan kita kepada Tuhan. Lalu tidak mengulangi kesalahan itu, dan tidak berkubang dalam penyesalan yang berkepanjangan.

Bertindaklah. Ambillah langkah untuk berani hidup benar, sehingga bahkan orang lain pun dapat melihat Tuhan yang bekerja melalui kelemahan-kelemahan kita. —RY

Bawa dan akui kesalahan kita kepada Tuhan, Dia sanggup mengubah kesalahan menjadi berkat.

* * *

Sumber: e-RH, 17/9/2011

(diedit seperlunya)

==========

01 Mei 2013

Bruce Bowen

Bruce Bowen bukanlah atlet basket yang luar biasa seperti Michael Jordan atau Kobe Bryant. Kemampuannya "terbatas" pada menjaga lawan dan membuat tembakan tiga angka dari pinggir lapangan.

Akan tetapi, dengan maksimal ia melakukan kedua hal tersebut, tanpa harus merasa bersalah karena tak dapat melakukan hal-hal lain, apalagi yang di luar kemampuannya.

Hasilnya, ia dikenal sebagai seorang anggota terpenting dari tim San Antonio Spurs yang berhasil memenangi 3 gelar juara liga bola basket Amerika Serikat (NBA) dalam jangka waktu 5 tahun (2002-2007).

Bruce Bowen

Di dunia ini memang ada orang-orang sangat berbakat yang diberi lima talenta oleh Tuhan. Kepada mereka, Tuhan berharap agar mereka melipatgandakan talentanya secara sepadan.

Sementara itu ada orang-orang lain yang dianugerahi kemampuan yang lebih terbatas, yang hanya menerima dua atau satu talenta saja. Harapan Tuhan atas mereka pun sebenarnya sama; mengelolanya sebertanggung jawab mungkin agar setiap pribadi memberi yang terbaik dari dirinya.

Sebab itu, berapa saja talenta yang Tuhan anugerahkan kepada kita, tidak menjadi soal. Yang penting kita tidak hanya berpuas diri karena memilikinya, tetapi bersedia memberi diri untuk mengelolanya dengan tekun. Mengerjakannya dengan setia sehingga meneguhkan karya Tuhan dalam hidup kita serta memuliakan kebesaran-Nya.

Bahkan sekalipun kita hanya memiliki satu talenta, tetapi apabila dikelola dengan kerajinan dan kesungguhan hati, akan mendatangkan berkat besar bagi diri sendiri maupun sesama. Dan, tentunya menyenangkan hati Tuhan. —ALS

Tuhan tidak meminta kita melakukan apa yang kita tidak bisa, tetapi melakukan apa yang kita bisa dengan setia.

* * *

Sumber: e-RH, 6/9/2011

(diedit seperlunya)

==========

20 April 2013

Respons terhadap Kritik

Mendapat kritik memang tidak enak. Telinga kita terasa panas dan lidah kita ingin segera membantah. Kalau kita punya kekuasaan yang cukup, kita ingin membungkam si pengkritik dengan cara apa pun, seperti yang digambarkan dalam film V for Vendetta.

Film ini mengisahkan tentang situasi negara Inggris di masa depan yang dipimpin oleh seorang diktator. Suatu hari sang diktator menerima kritik dari seseorang. Tak lama kemudian, sekelompok pasukan menyergap si pengkritik tersebut. Lalu nasibnya tak pernah terdengar lagi sejak saat itu.


Kritik memang tidak enak didengar. Namun kalau dikelola dengan baik, kritik dapat menjadi sesuatu yang berharga. Caranya, dengan tidak langsung bereaksi pada saat dikritik. Sebaliknya, tenangkan diri dan renungkan isi kritik itu.

Kalau memang isinya benar, berterima kasihlah kepada si pengritik dan mulailah mengubah diri kita. Kalau isi kritik itu salah, selidiki mengapa sampai orang melemparkan kritik tersebut.

Mungkin ada sesuatu yang membuat orang itu salah mengerti tentang kita. Klarifikasikan hal tersebut. Kritik yang terasa pahit bisa saja menghasilkan buah yang manis. —ALS

Kritik memang tak enak didengar, tapi perlu; sebab ia akan menunjukkan yang tidak beres. ~Winston Churchill

* * *

Sumber: e-RH, 13/8/2011

(dipersingkat)

==========

19 April 2013

Taat Itu Sederhana

Seorang anak dilarang makan permen oleh orangtuanya, karena sedang batuk. Namun ketika ia melihat satu stoples permen di meja makan yang warnanya begitu menarik, ia mulai tergoda. Ada keinginan untuk mengambil dan menikmati permen itu.

Lalu ia teringat pada larangan orangtuanya. Hatinya bergumul. Ia tahu bahwa sebenarnya ia tidak boleh makan permen selama masih batuk, tetapi keinginannya untuk menikmati permen tersebut ternyata jauh lebih besar dari larangan orangtuanya. Akhirnya, ia lebih memilih keinginan hatinya.


Demikian juga dengan Hawa di taman Eden. Ia tahu bahwa buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, tidak boleh dimakan. Akan tetapi, godaan dan keinginan hatinya mengalahkan larangan tersebut.

Ia melihat bahwa buah itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, apalagi buah itu akan memberi pengertian. Sungguh buah yang menarik hati.

Dari keinginan tersebut lahirlah perbuatan yang melanggar larangan Tuhan. Sehingga jatuhlah Hawa ke dalam dosa karena ketidaktaatannya.

Adam dan Hawa di taman Eden

Sesungguhnya, ketaatan itu sederhana. Kita hanya diminta melakukan apa yang dikatakan Tuhan, tidak lebih dan tidak kurang. Namun, mengapa dalam kondisi tertentu kita sulit untuk taat?

Sebenarnya yang sulit bukan perintah atau larangannya, tetapi mengendalikan keinginan hati kita. Keinginan hati yang bertentangan dengan perintah atau larangan Tuhan, bisa membuat kita merasa berat untuk taat.

Mari terus kenali Tuhan dan segala kehendak-Nya, agar setiap keinginan hati kita makin selaras dengan kerinduan-Nya. —RY

Ketaatan itu sederhana saja: lakukan apa yang diminta Tuhan, jauhi apa yang Dia larang.

* * *

Sumber: e-RH, 10/8/2011

(diedit seperlunya)

==========

18 April 2013

Mendobrak Alasan

Alkisah seekor kancil menyapa siput sambil menertawakannya, "Hei lamban, mau ke mana kamu? Kau ini apa bisa berguna, berjalan cepat saja kau tak bisa!"

Kata-kata itu melukai hati siput, sehingga ia hanya diam. Karena olokannya tak dijawab, kancil terus mengulanginya. Dan, semakin sering siput mendengarnya, semakin sakit hatinya. Bahkan, ia menjadi yakin dirinya tak berguna!

Dianggap kecil dan tak berguna, bisa mengecilkan nyali. Itulah yang dirasakan oleh Gideon, saat Tuhan mengutusnya berperang menyelamatkan bangsa Israel dari tangan orang Midian (Hakim-hakim 6:11-16).

Malaikat Tuhan menemui Gideon.

Ia mengusung kemudaannya sebagai alasan, seolah-olah Tuhan tidak melihatnya. Faktanya, kaum keluarga Gideon memang yang paling kecil di antara suku Manasye. Ditambah lagi, dirinya adalah orang paling muda dalam keluarganya.

Bagi Gideon, dua fakta ini menegaskan bahwa ia bukan siapa-siapa yang bisa berbuat banyak untuk Israel yang besar. Ah, lupakah Gideon, siapa yang memerintahkannya untuk maju?

Tuhan tentu tahu kemudaan Gideon. Ia tak mungkin lupa bahwa kaum Gideon adalah yang terkecil. Ia juga hafal orang-orang yang lebih pandai berperang dibanding Gideon.

Tetapi Tuhan memberi kemenangan kepada Gideon dan orang-orangnya, yang jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah orang Midian.

Seperti Gideon, pernahkah kita berhadapan dengan "ketetapan Ilahi" yang tampak tidak masuk akal?

Mungkin di saat seperti itu kita ingin mengajukan berbagai alasan kepada Tuhan. Kita memaparkan ketidakmampuan dan kelelahan kita, bahkan merasa lebih kecil dibanding orang lain.

Ingatlah, Tuhan lebih tahu semuanya tentang kita! Hanya, maukah kita menyerahkan diri di tangan-Nya? —HA

Jika kita mau dipakai oleh-Nya, Tuhan dapat bekerja luar biasa melalui kita, dengan kuasa-Nya.

* * *

Sumber: e-RH, 8/8/2011

(diedit seperlunya)

==========

16 April 2013

Menunda Lima Menit

Sejarah mencatat nama Marion Jones-Thompson dalam dua hal. Pertama, prestasinya yang luar biasa dalam olahraga atletik. Ia adalah juara dunia lari 100 meter putri tahun 1997 dan 1999 dengan catatan waktu terbaik 10,70 detik.

Di Olimpiade Sydney tahun 2000, ia memenangi tiga medali emas untuk nomor lari 100 m, 200 m, dan lompat jauh putri. Di ajang itu ia juga menyumbangkan dua medali perunggu untuk nomor beregu.

Kedua, kebohongannya kepada publik menyangkut masalah dopping yang digunakannya saat Olimpiade Sydney. Atas kebohongannya tersebut, Jones harus menjalani hukuman penjara enam bulan di Texas dan medali Olimpiade Sydney-nya dicabut.

Dalam wawancara setelah keluar dari penjara Jones mengatakan, penyesalan terbesarnya adalah ketika diinterogasi oleh penyidik, ia tidak menunda lima menit.

Seandainya ia tidak tergesa-gesa memutuskan untuk berbohong dan mengambil waktu lima menit untuk berpikir, menemui pengacara dan keluarganya yang menunggu di luar ruang penyidikan, tentu tidak akan berakhir demikian.

Marion Jones-Thompson

Mengambil keputusan secara emosional dan tanpa berpikir panjang, memang bisa fatal akibatnya. Hal ini terjadi juga pada Nabi Musa.

Ia rupanya sudah begitu jengkel atas kebebalan bangsanya, sehingga kemudian dalam emosinya ia melanggar perintah Tuhan (Bilangan 20:11, bandingkan dengan ayat 8). Akibatnya Musa tidak bisa masuk ke Negeri Perjanjian.

Musa memukul bukit batu, padahal diperintahkan agar mengatakan kepada bukit batu itu supaya mengeluarkan air – bukan memukulnya.

Hari ini, sebelum memutuskan sesuatu, "tundalah lima menit". Pikirkan baik buruknya; bagi diri sendiri atau orang lain. Jangan mengikuti emosi sesaat. Supaya tak menyesal belakangan. —AYA

Jangan reaksional. Menunda barang sebentar kadang-kadang perlu.

* * *

Sumber: e-RH, 2/8/2011

(diedit seperlunya)

==========

13 April 2013

Broken Square

Broken square adalah sebuah game (permainan) yang dimainkan dalam kelompok, yang tidak cuma mengasyikkan dan bikin penasaran, tetapi juga memberikan insight yang berguna bagi para pemainnya.

Permainan yang dimainkan oleh kelompok terdiri dari lima orang ini memberikan tugas kepada setiap pemain untuk menyusun square (bujur sangkar) dari potongan-potongan kayu/kertas yang ada.


Para pemain hanya boleh memberikan potongan kertas/kayu kepada anggota kelompoknya, tidak boleh meminta potongan kayu/kertas milik anggota kelompok.

Permainan ini makin menggemaskan karena selama bermain, pemain tidak diperbolehkan berkomunikasi baik secara verbal maupun nonverbal.

Banyak insight yang diperoleh dari permainan ini. Salah satu yang terpenting adalah melatih kepekaan akan kebutuhan orang lain.

Kunci keberhasilan permainan ini terletak pada kepekaan pemain akan kebutuhan teman dalam kelompoknya. Seorang pemain seharusnya memberikan potongan kayu/kertas yang sesuai dengan kebutuhan anggota kelompoknya.

Di sinilah daya tarik permainan ini, sebab biasanya seorang pemain memberikan potongan kayu/kertas karena dia tidak membutuhkan potongan kayu/kertas itu.

Dengan kata lain, dia segera "menyingkirkan" potongan kayu/kertas itu, dengan cara memberikannya kepada anggota kelompok, daripada potongan tersebut menjadi penghalang bagi dirinya untuk menyusun bujur sangkarnya sendiri.


Bukankah dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita juga melakukan hal yang sama? Kita memberikan sesuatu kepada sesama bukan karena sesama kita itu membutuhkan barang tersebut, tetapi karena kita sudah tidak lagi memerlukan barang itu, bahkan mungkin akan memenuhi rumah kita saja, atau almari kita.

Sering kali pula kita memberikan sesuatu asal saja. Bayangkan apa jadinya kalau kita memberikan kacang, bahkan marning jagung kepada seseorang yang tidak memiliki gigi alias ompong?

Tuhan memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap kita. Dia selalu bisa melihat kebutuhan kita.

Apa kebutuhan kita saat ini? Mungkin orang lain, bahkan keluarga kita sendiri, tidak bisa melihat dan merasakannya, tetapi jangan berkecil hati sebab Tuhan bisa melihat kebutuhan kita dan akan memenuhi-Nya.

Di samping itu, kita diminta agar memiliki kepekaan untuk melihat kebutuhan orang lain sehingga kita bisa memedulikan mereka, memberikan sesuai dengan kebutuhan mereka yang pasti akan bermanfaat bagi mereka.

Kalau mau serius, upaya mengasah kepekaan ini bukanlah hal yang gampang. Tetapi, marilah kita dengan bantuan Tuhan melakukannya sebagai ungkapan syukur kita kepada Dia yang terlebih dahulu memedulikan kita.

Sudahkah aku memiliki kepekaan terhadap kebutuhan orang lain di sekitarku?

* * *

Penulis: Liana Poedjihastuti | KristusHidup.org, 12/4/2013

(diedit seperlunya)

==========

12 April 2013

Waspadai Kedua Sisi

Bisnis Pak Rudy sedang guncang. Truk angkutan miliknya mengalami kecelakaan. Ia baru saja kehilangan ibunda tercinta. Penyakit kencing manisnya kambuh. "Semua ini cobaan buat saya," begitu katanya.

Namun, sesungguhnya cobaan tak hanya berkaitan dengan kesusahan. Sebaliknya, situasi menyenangkan juga bisa jadi sasaran empuk cobaan. Salah satu contohnya adalah seperti yang dialami oleh (Nabi) Yusuf.

Keberhasilan Yusuf di rumah Potifar berkat penyertaan Tuhan sungguh mengagumkan. Kepercayaan yang diterimanya kian besar. Di kalangan pekerja di rumah itu, ia beranjak dari tingkat paling rendah sampai ke puncak.

Wewenangnya untuk mengurus segala sesuatu begitu besar, hingga secara dramatis dilukiskan bahwa tuannya itu "tidak usah lagi mengatur apa-apa selain dari makanannya sendiri."

Dipandang dari segi karier, Yusuf sedang berada di puncak. Kondisi itu disempurnakan oleh penampilannya yang memikat: "manis sikapnya dan elok parasnya." Di saat seperti itulah cobaan datang. Istri majikannya melancarkan rayuan.

Yusuf dirayu oleh istri Potifar.

Dalam arti tertentu, cobaan di puncak keberhasilan malah lebih berbahaya. Banyak umat Tuhan terjatuh saat menapaki puncak kesuksesan. Tak tahan menanggung buaian kenikmatan.

Ketika masih sengsara ditanggung bersama istri tercinta, tetapi ketika jaya lupa diri dan mengkhianati istri setianya. Ketika krisis rajin beribadah, tetapi menghilang tatkala krisis berlalu. Menyalahgunakan jabatan justru dilakukan ketika kepercayaan yang diberikan makin besar.

Cobaan bisa datang dari dua sisi: ketika kita sedang menderita dan ketika sedang senang. Kita perlu berhati-hati. Libatkan Tuhan dalam melawan cobaan, sebab Dia sumber kemenangan. —PAD

Mintalah kekuatan dari Tuhan untuk menanggung cobaan, baik pada waktu susah maupun pada waktu senang.

NB: Cobaan = sesuatu yang dipakai untuk menguji (ketabahan, iman, dsb). ~Kamus Besar Bahasa Indonesia~

* * *

Sumber: e-RH, 21/7/2011

(diedit seperlunya)

==========

11 April 2013

Amarah Kepiting

Ketika air laut sedang surut, banyak anak menangkap kepiting kecil di tepi Pantai Belawan, Sumatra Utara.

Anak-anak itu memegang setangkai kayu pendek dengan seutas tali pancing pendek. Sebuah batu atau kayu yang sangat kecil diikatkan di ujung tali pancing. Mereka menyentuhkannya pada kepiting yang sedang mengintip dari rongga-rongga pasir yang kering.

Biasanya kepiting itu akan marah, lalu menjepit batu atau kayu kecil itu. Itulah saat yang ditunggu anak-anak itu. Mereka akan menarik kayunya dan memasukkan kepiting ke dalam ember atau wadah penampung lainnya.

Kepiting itu akan menjadi mainan mereka atau kemudian dijual seharga Rp500 kepada anak lain. Amarah telah mencelakakan si kepiting.


Banyak hal yang dapat memancing amarah kita dan menguras persediaan kesabaran kita. Namun, kemarahan sering kali membuat seseorang bertindak dengan tidak bijaksana.

Ketika kita marah, emosi negatif akan mendominasi perasaan kita dan menuntut pelampiasan yang sepadan. Ketika melampiaskannya, mungkin kita merasakan kepuasan sesaat, namun setelah itu kita dirundung oleh penyesalan dan rasa bersalah. Kadang-kadang, amarah bahkan bisa mencelakakan kita.

Untuk dapat meredam amarah, kita perlu melatih dan memelihara kesabaran. Bukan berarti kita tidak boleh marah, namun emosi kita semestinya tidak lekas terpancing.

Kita juga perlu belajar untuk marah pada saat yang tepat dan memberikan respons dengan cara yang benar, sehingga kita tidak perlu menyesalinya kemudian.

Akan selalu ada perkara yang memancing kemarahan kita, namun kita dapat memilih untuk tidak menanggapinya.

* * *

Penulis: Hembang Tambun | e-RH, 11/4/2013

(diedit seperlunya)

==========

10 April 2013

Kedewasaan

Banyak hal positif yang dapat kita pelajari dari sifat-sifat seorang anak kecil. Misalnya ketulusan dan kepolosan hatinya. Juga sifat mudah melupakan kesalahan orang lain, tidak mendendam, dan mudah memaafkan.

Namun, ada juga beberapa sifat kanak-kanak yang tidak boleh terus kita bawa tatkala kita sudah menjadi dewasa. Misalnya saja keegoisan, dan sifat mudah menangis apabila keinginan tidak tercapai.


Sebuah nasihat bijak mengatakan bahwa ketika kita sudah menjadi dewasa, maka kita harus menanggalkan sifat kanak-kanak kita. Sifat kanak-kanak seperti apa yang harus ditanggalkan? Antara lain yang bertentangan dengan karakter kasih.

Jadi, apabila kasih itu sabar maka ketidaksabaran adalah sifat kanak-kanak yang harus kita buang. Apabila kasih itu tidak sombong maka kesombongan adalah sifat kanak-kanak yang harus kita lepaskan. Apabila kasih itu murah hati maka sikap pelit adalah sifat kanak-kanak yang harus kita tinggalkan.

Proses menanggalkan sifat kanak-kanak adalah proses yang akan terus berlangsung seumur hidup.


Kedewasaan rohani tidak selalu sejalan dengan bertambahnya usia. Oleh sebab itu, kita harus selalu memeriksa diri dan juga mau mendengar masukan orang lain di bagian mana kita belum mengalami kedewasaan.

Dengan demikian, kita terus mengusahakan pertumbuhan rohani kita agar makin hari menjadi makin dewasa oleh pembentukan Tuhan.

Satu demi satu kita menanggalkan sifat kanak-kanak yang masih melekat, dan meminta Tuhan menolong kita agar diubahkan serta diproses menjadi makin dewasa. (RY)

Tanggalkan sifat kekanak-kanakan, gantikan dengan kedewasaan.

* * *

Sumber: e-RH, 18/7/2011 (diedit seperlunya)

==========

08 April 2013

Yang Kecil Saja

Dua orang ibu tinggal di dekat pelabuhan. Setiap pagi mereka menyiapkan minuman hangat untuk para nelayan yang baru pulang melaut. Sebagai gantinya, mereka akan diberi beberapa ikan hasil tangkapan.

Ibu yang pertama selalu berterima kasih setiap kali diberi ikan kecil maupun besar. Lain halnya dengan ibu kedua. Ia selalu panik jika diberi ikan besar. Katanya, "Maaf, bolehkah saya minta yang kecil saja?"

Suatu saat, karena bingung melihat kebiasaan temannya itu, ibu pertama bertanya kepada ibu kedua, "Mengapa engkau selalu menolak diberi ikan besar?"

Dengan tenang ibu itu menjawab, "Karena saya tak punya wajan yang cukup besar untuk memasaknya." Ibu pertama tak dapat menahan tawanya, "Bukankah engkau bisa memakai pisau dan memotong-motongnya?"


Seperti dua ibu itu, setiap saat kita juga diperhadapkan pada hal-hal kecil dan besar, bahkan hal yang sangat besar; hal-hal yang datang dalam bentuk yang menyenangkan, juga yang tidak.

Kita tetap harus menghargai hal-hal kecil. Namun, kita juga jangan menolak impian, pekerjaan, dan pelayanan yang Tuhan percayakan hanya karena kita melihat semua itu terlalu besar, sedangkan hati kita tidak cukup luas atau iman kita terlalu kecil untuk menerima berkat-Nya.

Bukan saatnya lagi "minta yang kecil saja", karena yang kita perlukan adalah kerja ekstra dan keyakinan bahwa segala hal, seberapa pun ukurannya, dapat kita tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita. —SL

Hal kecil dan besar dapat saya tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada saya!

* * *

Sumber: e-RH, 15/7/2011 (diedit seperlunya)

==========

04 April 2013

Tidak Mencari “Kambing Hitam”

Secara mengejutkan direktur CIA, David Petraeus, mengundurkan diri setelah 14 bulan menjabat. Padahal selama ini Petraeus dikenal sebagai jenderal yang bersih dan disegani. Ia sukses memimpin misi Amerika Serikat di Irak dan Afganistan.

Namun apa mau dikata? Petraeus terlibat perselingkuhan dengan penulis biografinya yang juga adalah seorang jurnalis, Paula Broadwell.

Sebagai seorang jenderal dan pejabat CIA, urusan perselingkuhan bukan hal main-main, sehingga ia memutuskan untuk mundur dari jabatannya.

Petraeus berani secara terbuka mengakui kesalahannya. Ia tidak sibuk mencari pembenaran dan minta dimaklumi atas perselingkuhannya, apalagi mencari “kambing hitam” demi melindungi dirinya.

KIRI KE KANAN: Jenderal David Petraeus, istrinya Holly Petraeus, dan kekasihnya Paula Broadwell.

Mencari “kambing hitam” sudah dilakukan manusia sejak zaman dahulu. Ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan, mereka tidak berani mengakui kesalahan di hadapan Tuhan. Keduanya mencari “kambing hitam” untuk menutupi kesalahan mereka.

Adam menimpakan kesalahan kepada Hawa, begitu pula Hawa langsung melempar kesalahan kepada ular. Mereka tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Mereka ingin bebas dan cari aman sendiri.

Penyakit “Mencari Kambing Hitam” masih menjangkiti manusia sampai sekarang. Sering terjadi pada para penguasa, karena mereka memiliki beberapa anak buah untuk dijadikan “kambing hitam”. Sedangkan pada sesama pekerja, hal ini bisa terjadi dengan mencari rekan kerja lainnya untuk dijadikan “kambing hitam”.

Sikap menyalahkan orang lain adalah sifat yang egois, karena tidak mau mengakui kesalahan, meskipun sudah jelas kesalahannya diketahui orang. Sikap ini juga menandakan bahwa orang tersebut tidak bersedia belajar dari kesalahannya.

Tuhan menghendaki kita umat-Nya menjadi orang yang berjiwa besar, berani bertanggung jawab terhadap segala perkataan dan perbuatan kita, termasuk di dalamnya berani mengakui kesalahan.

Melakukan kesalahan memang memalukan. Namun lebih memalukan kalau tidak berani mengakui kesalahan.

* * *

Penulis: Pdt. Wiji Astuti | KristusHidup.org, 3/4/2013

(diedit seperlunya)

==========

03 April 2013

Fokus ke Depan

Ketika kita mengemudi kendaraan, pandangan kita terutama terfokus pada hal-hal yang ada di depan kita. Kita memerhatikan kendaraan lain yang melintas, jalan yang mungkin berlubang, juga manusia atau hewan yang bisa saja tiba-tiba menyeberang.

Sesekali saja kita harus menengok ke kaca spion untuk memastikan tidak ada kendaraan yang sedang mengejar kita karena suatu keperluan, atau barangkali ada kendaraan yang ingin mendahului kita pada saat kita ingin berbelok.


Demikian juga dengan cara kita menjalani hidup. Sebaiknya kita mengarahkan pandangan ke depan, berfokus pada apa yang menjadi cita-cita kita pada masa yang akan datang disertai rasa optimistis, doa, dan kerja keras.

Masa lalu —rentetan kejadian yang sudah tidak bisa diubah lagi— kita gunakan sebagai pelajaran untuk menyongsong masa depan. Masa lalu adalah sejarah yang memberi kita pengalaman berharga agar kita lebih bijaksana dan hati-hati pada masa kini dan nanti.

Kita semua memiliki masa lalu. Ada yang gemilang sehingga orang seakan ingin terus memeluknya. Ada pula yang menimbulkan trauma sehingga orang terus dihantui oleh bayangan buruk.

Kedua sikap itu sama-sama tidak sehat. Entah baik entah buruk, kita perlu belajar melepaskan masa lalu, agar kita dapat melanjutkan hidup dengan cara yang bermakna dan meraih pencapaian yang maksimal.

Mari kita mengarahkan pandangan ke masa depan dan menjadikan masa lalu sebagai acuan untuk menjadi orang yang lebih baik pada masa kini dan nanti.

Masa lalu seharusnya menjadi pendorong untuk maju, bukannya beban yang membuat langkah kita tertahan.

* * *

Penulis: Riris Ernaeni | e-RH, 3/4/2013

(diedit seperlunya)

==========

02 April 2013

Gara-gara Cinta

Seorang anak bertengkar dengan orangtuanya karena cintanya tidak disetujui. Seorang perempuan menyakiti perempuan lain yang lebih dipilih oleh pemuda yang sudah menolaknya. Seorang pemuda bertindak kalap karena cintanya diduakan. Pendidikan dan pekerjaan terbengkalai karena sibuk mengurusi cinta. Sebuah rumah tangga hancur karena ada cinta yang lain. Rahasia jabatan dipertaruhkan karena rayuan cinta. Iman pun terkadang dikorbankan atas nama cinta.

Dalam Perjanjian Lama ada kisah Simson, seorang yang gagah perkasa. Ketika Simson lahir, orang Israel sedang jatuh ke tangan orang Filistin selama empat puluh tahun.

Simson kerap memperdaya orang Filistin hingga membuat mereka marah. Orang Filistin ingin menangkap Simson, tetapi ia terlalu kuat. Maka, mereka berusaha mencari kelemahan Simson, yakni ia menyukai perempuan Filistin.

Simson

Simson bisa diperdaya oleh perempuan yang ia cintai. Perempuan yang pertama berhasil mendapat jawaban atas teka-tekinya.

Perempuan yang kedua, Delila, berhasil membujuk Simson untuk membuka rahasia kekuatannya. Orang Filistin akhirnya berhasil menangkap Simson. Mereka mencungkil kedua matanya dan membelenggunya.

Simson dan Delila

Cinta adalah anugerah Tuhan bagi manusia. Sebagai anugerah, cinta seharusnya menuntun manusia untuk saling melengkapi dalam menyatakan kemuliaan dan kasih Tuhan yang agung.

Cinta seharusnya tidak buta dan tidak membutakan seseorang dalam menjalani hidup, tetapi memampukannya membangun hidup yang berkualitas dan berbuah.

Belajarlah dari kisah Simson. Jangan sampai gara-gara cinta, kita hanyut dalam berbagai hal buruk. —SL

Cinta seharusnya memperlengkapi manusia untuk membangun hidup yang berkualitas dan berbuah.

* * *

Sumber: e-RH, 9/7/2011 (diedit seperlunya)

==========

20 Maret 2013

Risiko

Di pedalaman Negara Bagian Georgia, Amerika Serikat, seorang petani duduk di serambi gubuknya yang hampir roboh. Datanglah seorang asing yang meminta segelas air.

Setelah minum, untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, orang asing itu mencoba menyenangkan hati si petani dengan bertanya, “Bagaimana keadaan tanaman kapasmu tahun ini?”

Petani itu menjawab, “Aku tidak menanam sebatang pun.” Orang asing itu untuk sejenak tertegun, tapi kemudian segera menanggapi, “Tidak menanam sebatang pun?” “Tidak, aku khawatir ada hama penggerek,” jelas petani itu.

Lalu orang asing itu bertanya lagi, “Kalau begitu bagaimana dengan tananam jagungmu?” Si petani dengan agak ogah-ogahan menjelaskan, “Jagung juga tidak aku tanam. Aku cemas kalau hujan tidak akan turun.”

Masih mencoba agar bisa menyenangkan si petani, orang asing itu bertanya lagi, “Baiklah, bagaimana dengan tanaman kentangmu?” Segera petani itu menjawab, “Aku sama sekali tidak menanamnya sebab aku khawatir akan hama kentang.”

Dengan penasaran orang asing itu bertanya, “Kalau begitu, apa yang kau tanam tahun ini?” Jawab petani itu dengan enteng, “Tidak ada. Aku hanya tidak mau mengambil risiko.”

Cerita Jacob Braude ini mengingatkan saya pada perumpamaan Yesus tentang talenta yang tertulis di dalam Matius 25:14-30. Kita mungkin telah hafal isi perumpamaan yang terkenal ini. Bukankah kisah petani di atas mirip dengan hamba yang menerima satu talenta?

Hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Apa sebabnya? Tampak jelas dari jawabannya, “...aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah.” Hamba itu takut mengambil risiko.

perumpamaan tentang talenta

Tidak sedikit di antara kita yang juga tidak berani mengambil risiko. Golongan ini lebih suka jalan yang datar-datar saja, yang penting aman, apalagi kalau bisa nyaman.

Bagaimanapun juga, dalam hidup ini —termasuk dalam pekerjaan— risiko selalu ada.

Leo F. Buscaglia mendeskripsikan orang yang tidak mau mengambil risiko sebagai berikut: “The person who risks nothing does nothing, has nothing, is nothing, and becomes nothing. He may avoid suffering and sorrow; but he simply cannot learn, feel, change, grow, love, and live.

Talenta apa saja yang sudah dikaruniakan Tuhan kepada Anda untuk dikembangkan? Ataukah Anda hanya menyimpan talenta itu, tidak melakukan apa-apa dengannya karena takut mengambil risiko? Apakah Anda termasuk orang yang berani, gegabah, atau takut mengambil risiko?

* * *

Penulis: Liana Poedjihastuti

Sumber: KristusHidup.org, 19/3/2013

(diedit seperlunya)

==========

19 Maret 2013

1.000 Kelereng

Jeffrey Davis menulis buku berjudul 1,000 Marbles (1.000 Kelereng), karena tergugah ajakan seorang penyiar senior dalam acara radionya. Si penyiar mengajak para pendengar untuk selalu menata prioritas karena masa hidup manusia ada batasnya.

Jika seseorang hidup hingga usia 75 tahun, maka dikalikan dengan 52 (jumlah minggu dalam setahun), berarti orang itu memiliki 3.900 pekan yang bisa ia pergunakan dengan cara terbaik.

1.000 Kelereng

Saat itu si penyiar sudah berusia 55 tahun. Jadi, andai ia diberi hidup sampai usia 75, berarti ia tinggal punya 1.000 minggu lagi!

Ia bergegas ke toko mainan. Membeli 1.000 kelereng. Lalu menaruhnya di stoples kaca. Setiap minggu ia akan mengeluarkan satu kelereng dan membuangnya.

Sejak itu, berkurangnya kelereng di dalam stoples memperingatkannya betapa ia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ia mesti menata prioritas hidup secara benar dan mengutamakan hal yang terpenting.

kelereng yang tersisa

Tanpa menata prioritas, kita akan membuang banyak waktu secara percuma untuk hal yang kurang penting atau bahkan yang tak berguna.

Sebaliknya, prioritas yang benar mengarahkan kita pada tujuan utama kita, yaitu: memuliakan nama Tuhan, melalui segala hal dalam hidup kita.

Sudahkah kita mencari Kerajaan Allah? Sudahkah keluarga kita memuliakan Dia? Sudahkah pekerjaan kita memancarkan kemurahan-Nya? Sudahkah pelayanan kita menyatakan kebesaran kuasa-Nya?

Carilah dahulu Kerajaan Allah. Maka, semua yang kita perlukan, tak usah kita khawatirkan, karena Dia akan mencukupkan.

Jangan tenggelam dalam aktivitas dan rutinitas, berilah prioritas pada Tuhan di tempat teratas.

* * *

Penulis: Agustina Wijayani | e-RH, 19/3/2013

(diedit seperlunya)

==========

18 Maret 2013

Sekolah Padang Gurun

Eric Wilson, seorang dosen, ingin hidup lebih bahagia. Berbagai cara dicobanya. Ia membaca berbagai buku, mencoba banyak tersenyum, mengucapkan kata-kata positif, dan menonton film komedi. Semuanya tidak menolong.

Akhirnya, ia mengarang buku berjudul Against Happiness (Melawan Kebahagiaan). Menurutnya, kebahagiaan tidak bisa dikejar atau dibuat. Ia akan muncul sendiri setelah kita berhasil menghadapi persoalan sulit, ketidakpuasan, bahkan penderitaan. Jadi, jalan untuk mencapai kebahagiaan ialah harus melalui kesulitan!


Nabi Musa menghabiskan masa mudanya di istana Firaun. Hidupnya nyaman, tetapi tidak bahagia. Suatu saat, datanglah jalan yang sulit. Setelah membunuh seorang Mesir, Musa ketakutan lalu melarikan diri ke padang gurun.

Hidupnya berubah drastis. Dulu serba ada, kini serba tidak punya. Anak raja Mesir itu kini hanyalah seorang pendatang di Midian. Namun, di padang gurun itu justru Musa belajar banyak tentang kesendirian; tentang kerasnya kehidupan gurun; tentang susahnya menghadapi orang sulit.

Tanpa disadarinya, Tuhan menempatkan dan menempanya di sekolah padang gurun itu untuk mempersiapkannya menjadi pemimpin umat. Musa akhirnya berjumpa Tuhan dan menemukan kebahagiaan ketika menjalani panggilannya.

Nabi Musa

Kebahagiaan muncul ketika kita berjuang, lalu berhasil. Oleh sebab itu, jangan menggerutu jika Anda sedang ditempa oleh Tuhan melewati "sekolah padang gurun".

Berjuanglah. Syukurilah tiap pengalaman hidup yang sulit. Belajarlah sesuatu dari sana dengan terus meyakini bahwa setelah "lulus" nanti, kebahagiaan menanti! —JTI

Tanpa perjuangan, tidak ada kebahagiaan.

* * *

Sumber: e-RH, 13/6/2011 (diedit seperlunya)

==========

13 Maret 2013

100.000 Kata!

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa rata-rata setiap orang punya 700 kesempatan untuk berbicara kepada orang lain setiap hari.

Orang yang banyak bicara memakai 12.000 kalimat atau kira-kira 100.000 kata dalam sehari! Bayangkan, berapa banyak masalah yang timbul dalam sehari oleh 100.000 kata-kata, dan berapa banyak berkat yang dihasilkannya?


Hati-hati dengan perkataan! Ada banyak orang terluka karena kata-kata yang tidak tepat dan tidak bijaksana.

Sebagai orangtua, kadang kita tidak menyadari bahwa perkataan kita menyakiti anak-anak kita.

Sebagai orang percaya, kadangkala perkataan kita menjadi batu sandungan bagi orang yang mendengarnya. Tanpa sadar dari mulut kita keluar perkataan sinis, tajam, keras, pedas, bahkan perkataan kotor yang tidak seharusnya keluar dari mulut kita.

Belum lagi ada orang yang hobi menggosip. Bisa dibayangkan akibatnya.

Tuhan menghendaki kita benar-benar bertanggung jawab atas setiap kata yang kita ucapkan, sementara selama ini mungkin kita tak peduli dengan kata-kata yang meluncur dari mulut kita. Kita tak pernah peduli apakah kata-kata kita menjadi berkat, atau sebaliknya, menyakiti hati orang lain.

Tuhan menghendaki agar yang keluar dari mulut kita itu adalah kata-kata yang manis, menguatkan, membangun, dan bisa menjadi berkat bagi orang yang mendengarnya.

Untuk menjaga perkataan memang bukan hal mudah, tetapi kalau kita mau melatih lidah dan perkataan kita untuk mengucapkan hal-hal yang baik dan benar, yakinlah bahwa itu akan meminimalkan kesalahan dari perkataan yang keluar dari mulut kita. —PK

Sudahkah kita bertangung jawab atas setiap kata yang keluar dari mulut kita?

* * *

Sumber: e-RH, 4/6/2011 (diedit seperlunya)

==========

09 Maret 2013

Jujur Itu Mujur

Ketika sampai di rumah, seorang pensiunan di kota Braunschweig, Jerman sangat terkejut. Ia membeli daging seharga Rp69.000, namun ternyata kantong yang dibawanya pulang berisi uang sebanyak Rp24.700.000.

Rupanya secara tak sengaja pegawai toko memberinya bungkusan yang salah. Segera ia menelepon polisi dan mengembalikan uang itu. Sebagai imbalan atas kejujurannya, ia mendapatkan hadiah sekeranjang sosis dan uang Rp1.200.000.


Firman Tuhan menyatakan bahwa kejujuran bukan hanya bermanfaat untuk orang yang bersangkutan, namun meluas ke lingkungan tempat tinggalnya.

Tindakan yang jujur bersumber dari hati yang tulus, kesediaan untuk mempraktikkan kebenaran, dan penghargaan pada proses kerja yang berbuah langgeng.

Orang fasik, sebaliknya, mengejar hasil yang melimpah secara manipulatif. Kejujuran mendatangkan berkat; kefasikan merusak masyarakat.

Komunitas apa pun tidak mungkin berkembang menjadi maju dan nyaman untuk didiami jika tidak dibangun di atas dasar kejujuran dan ketulusan warganya.

Menurut sebuah survei, keunggulan suatu negara dan kepuasan warganya tidak ditentukan oleh kekayaan alam yang mereka miliki. Penentunya adalah bangunan relasi masyarakat yang berlandaskan kejujuran, kerja keras, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintahan dan penegak hukum, serta adanya penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Anda rindu bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unggul? Sebagai orang beriman, kita dapat berperan dengan mengedepankan kejujuran dalam berkarya.

Kejujuran mendatangkan berkat. Kefasikan merusak masyarakat.

* * *

Penulis: Susanto

Sumber: e-RH, 9/3/2013

(diedit seperlunya)

==========

04 Maret 2013

Balok di Mata

Seorang buta dan seorang juling sedang bertengkar. "Ayo kita berkelahi di lapangan, siapa menang, dia yang benar," kata si buta. Si juling menjawab, "Siapa takut?"

Ketika mereka sampai di lapangan, si buta berteriak, "Hei pengecut, jangan sembunyi di tempat gelap, hadapi aku." Tapi si juling segera menyahut, "Kau yang pengecut, kenapa kau membawa teman? Kalau kau lelaki sejati, majulah satu lawan satu."

Padahal, tidak ada orang lain kecuali mereka berdua. Si buta menganggap si juling bersembunyi, sedang si juling melihat seolah-olah ada dua lawan di hadapannya, padahal tidak.


Dalam kehidupan, kita bisa mengalami dan menyaksikan hal konyol semacam ini. Orang munafik bisa selalu menemukan kelemahan dan ketidakberesan orang lain. Sedangkan kesalahan dan kedegilan hatinya sendiri yang lebih besar tak mampu dikenalinya.

Kita akan merasa tidak nyaman jika dekat dengan orang seperti ini. Sebab ia bisa menemukan hal-hal yang dianggapnya tidak beres, tetapi ia tidak mampu dan tidak mau mengakui kelemahannya sendiri.

Bagaimana menghadapi orang seperti ini? Apakah dengan menjauhinya, sebab mengurus orang seperti ini hanya menguras energi?

Stop, jangan tergesa bertindak demikian. Sebab, jangan-jangan kita sendiri orang munafik itu. Sebuah nasihat mengingatkan: "Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu."

Artinya, setelah memeriksa diri sendiri, barulah kita dimampukan menolong orang lain yang punya kesalahan, sebagai saudara. Caranya? Dengan kasih, dan tidak menghakimi. —SST

Periksa diri sendiri sebelum menghakimi. Itu yang menolong kita untuk dapat selalu mengasihi.

* * *

Sumber: e-RH, 11/5/2011 (diedit seperlunya)

Judul asli: Balok di Matamu

==========

03 Maret 2013

Masih Ingin Lebih

Sebuah dongeng. Seorang pemburu telah berjasa menyelamatkan kuda kesayangan raja dari terkaman harimau. Sebagai hadiah, raja memberikan kepadanya hadiah berupa tanah, seluas yang bisa ia kelilingi dengan berlari dalam tiga hari.

Maka, bergegaslah sang pemburu berlari. Siang malam ia berlari tiada henti, demi mendapat tanah seluas-luasnya. Tidak peduli lapar dan haus, hujan dan terik matahari.

Rasanya masih kurang luas, masih kurang luas. Sampai akhirnya tibalah hari ketiga, sang pemburu jatuh tersungkur lalu mati karena kelelahan.

Begitulah kalau kita terjebak dalam ambisi yang tanpa batas. Kita dipacu untuk terus bekerja dengan teramat keras. Kita didorong untuk menumpuk harta benda dengan tidak kenal lelah, tidak kenal henti. Sampai-sampai bisa lupa keluarga, lupa kesehatan, bahkan juga lupa Tuhan.


Seperti si pemburu yang terus berlari dan berlari, demi memenuhi ambisi mendapatkan tanah seluas-luasnya. Sudah mendapat banyak, tetapi masih ingin lebih banyak lagi. Ketika tiba di ujung jalan, kita baru tersadar betapa sia-sianya semua itu. Namun, sudah terlambat.

Itu pula pesan yang ingin disampaikan Yesus dalam perumpamaan tentang “orang kaya yang bodoh” (dicatat dalam Perjanjian Baru). Bahwa harta kekayaan sebesar apa pun tidak bisa dijadikan sandaran hidup sepenuhnya dan seutuhnya. Sebab Tuhan bisa memanggil kita kapan saja.

Apabila saat itu tiba, selesai jugalah segala urusan kita dengan harta benda di dunia ini. Maka, penting sekali untuk kita tidak membiarkan diri terjebak dalam pementingan harta benda yang berlebihan. —AYA

Keserakahan adalah awal kehancuran.

* * *

Sumber: e-RH, 8/5/2011 (diedit seperlunya)

==========

25 Februari 2013

Menjaring Angin

Bisakah kita menjaring angin? Para ilmuwan dari Delft Technical University mencoba menjaring angin untuk menghasilkan tenaga listrik.

Mereka memanfaatkan layang-layang dengan luas permukaan 10 meter persegi untuk mengubah angin menjadi energi listrik. Sejak tahun 2008 mereka sudah mencoba untuk membuat model yang pas.

layang-layang untuk menjaring angin

Daya cipta manusia memang mengagumkan. Menara Babel (yang dicatat dalam Perjanjian Lama), misalnya, kerap dijadikan simbol keangkuhan, kekuasaan duniawi, dan perlawanan terhadap kuasa Tuhan.

Namun, menara ini juga merupakan simbol dari kecerdasan akal budi yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Tuhan sendiri mengakui potensi besar yang ada di dalam diri manusia.

Kebenaran ini seharusnya menggelitik setiap orang percaya, mendorong kita mengembangkan keunggulan di bidang masing-masing untuk menyatakan kehebatan Tuhan.

Kuncinya: kita perlu bergandengan tangan dan saling mendorong dalam mengembangkan potensi diri. Setiap orang perlu bekerja dengan rajin dan tekun untuk menghasilkan karya yang sebaik-baiknya.

Bersama-sama kita dapat menyumbangkan solusi bagi persoalan praktis kehidupan sehari-hari. Dan, melalui karya tersebut, kiranya kita dapat memperkenalkan kepada orang banyak Tuhan yang menyertai kita dan memberi kita kreativitas. —Martinus Prabowo

Tuhan kita adalah Tuhan yang Mahabesar dan Mahakreatif. Mari kita berkarya untuk menyatakan keagungan-Nya.

* * *

Sumber: e-RH, 25/2/2013 (diedit seperlunya)

==========

23 Februari 2013

Belajar dari Kritik

Tak seorang pun senang dikritik. Kalaupun ada, mungkin hanya segelintir orang saja. Tapi sesungguhnya ada “kebenaran” di balik suatu kritik.

Di samping itu kritik yang objektif dapat membuat kita maju. Oleh karena itu, kritik tidak seharusnya membuat kita gusar, tetapi juga jangan ditelan bulat-bulat begitu saja.

Kritik harus dikaji secara cermat. Kritik yang jujur dapat mengembangkan kita. Tetapi, sebuah kritik yang tidak jujur akan melukai dan mencelakakan kita. Mari kita belajar dari cerita berikut ini.

Seorang pemilik kios ikan sangat bangga dengan papan nama yang baru selesai dibuat. Papan nama itu bertuliskan ‘Ikan Segar Dijual di Sini’.

Tak lama kemudian seorang pembeli bertanya, “Mengapa Anda menulis kata ‘segar’ pada papan itu? Apakah Anda tidak ingin menjual ikan yang lain?” Maka si pemilik kios ikan menghapus kata ‘segar’ sehingga hanya ada tulisan ‘Ikan Dijual di Sini’.

Kemudian orang lain berkata, “Mengapa Anda menuliskan kata ‘di sini’, bukankah itu sudah jelas?” Maka pemilik kios ikan itu pun menghapus kata ‘di sini’, sehingga sekarang hanya tersisa tulisan ‘Ikan Dijual’.

Seorang pembeli lain yang datang ke kios itu juga bertanya, “Mengapa menggunakan kata ‘dijual’? Anda tidak mungkin menaruh ikan-ikan di sini kalau tidak untuk dijual, bukan?” Dan pemilik kios ikan itu pun menanggalkan kata ‘dijual’ sehingga hanya ada kata ‘Ikan’.

“Pasti setelah ini tidak ada seorang pun yang dapat menemukan kesalahan pada kata ini,” pikir pemilik kios ikan itu.

Namun, ternyata dia keliru, karena kemudian muncul seseorang yang berkata, “Aku tidak melihat manfaat apa pun dari pemasangan papan nama dengan tulisan ‘Ikan’. Dari jauh orang-orang sudah dapat mencium baunya.”

Lagi-lagi, tapi kali ini untuk yang terakhir kalinya, pemilik kios ikan menghapus tulisan pada papan nama tersebut. Sehingga akhirnya kios ikan itu tidak mempunyai papan nama.


Barangkali cerita ini membuat kita tertawa geli. Tapi begitulah jika seseorang menanggapi semua kritik dengan mengikutinya bak kerbau dicucuk hidungnya.

Kita sering menerima kritik, tetapi tak jarang kita juga memberikan kritik. Ada seni memberi dan menerima kritik.

Jika kita menerima sebuah kritik, kajilah kebenarannya, ambil hikmahnya, untuk mengembangkan diri.

Pada pihak lain, jika kita memberikan kritik, berikanlah dengan jujur dan dengan cara yang baik untuk membangun orang lain. —Liana Poedjihastuti

Orang yang berhak untuk mengkritik adalah dia yang mempunyai hati untuk menolong. ~Abraham Lincoln

* * *

Sumber: KristusHidup.org, 22/2/2013 (diedit seperlunya)

==========

13 Februari 2013

“Kekurangan” Fisik

Setiap orang pasti sensitif terhadap apa yang dipandang sebagai "kekurangan" pada fisiknya. Apalagi kalau orang-orang di sekitar memakainya sebagai bahan ejekan atau menyebut kekurangan itu untuk memaki.

Bahkan, para pelawak yang kehabisan lelucon memakainya juga untuk memunculkan kelucuan. Akibatnya, jauh di dalam hati, "kekurangan" fisik menimbulkan tekanan dan rasa minder yang mengusik jiwa pemiliknya. Namun, benarkah itu merupakan "kekurangan"?

Pada masa lampau seorang yang kidal juga dipandang "kurang". Tidak lazim. Janggal. Dipandang kurang terampil. Jika lelaki, ia akan dipandang sebelah mata dalam ketentaraan.

Namun, kisah Ehud (dalam Perjanjian Lama) berkata lain. Justru tatkala bangsanya membutuhkan pemimpin, Tuhan "membangkitkan bagi mereka seorang penyelamat". Tuhan justru menggunakan kekidalannya menjadi keuntungan untuk menerabas hingga ke basis pertahanan lawan.

Jangan pernah meremehkan kondisi fisik seseorang, apalagi jika orang itu adalah diri Anda sendiri. Dunia ini penuh orang "berkekurangan" fisik, tetapi berprestasi besar.

Sebut saja gadis buta sekaligus tunarungu, Hellen Keller. Pianis "bertangan kepiting" (masing-masing tangan berjari dua) dari Korea, Hee Ah Lee.

Wanita lumpuh (dari leher ke bawah), pelukis dan motivator hebat, Joni Eareckson Tada. Dan, masih banyak lagi.

Joni Eareckson Tada

Jika Tuhan berkenan memakai mereka, tak ada yang sanggup menghalangi. Termasuk keterbatasan fisik mereka. —PAD

Apa yang bagi manusia merupakan "kekurangan", Tuhan bisa menjadikannya sebagai "kelebihan".

* * *

Sumber: e-RH, 20/4/2011 (diedit seperlunya)

Judul asli: Si Kidal

==========

09 Februari 2013

Teori atau Praktik?

Sebuah humor menceritakan tentang seseorang yang pergi ke surga. Di sana ia melihat sebuah rak berisi benda-benda yang tampak aneh.

"Apa itu?" tanyanya kepada malaikat. Jawab malaikat, "Itu telinga dari orang-orang yang ketika hidup di dunia mendengarkan hal-hal yang harus mereka lakukan, tetapi tidak melakukannya. Jadi ketika meninggal, telinga mereka saja yang masuk ke surga sementara bagian tubuh yang lain tidak."

Lalu ada rak yang lain, dan malaikat menjelaskan, "Ini lidah orang-orang yang ketika hidup di dunia memberi tahu orang lain untuk berbuat baik dan hidup baik, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Maka ketika meninggal, lidah-lidah mereka saja yang masuk ke surga dan bagian tubuh yang lain tidak."

jalan ke surga – ilustrasi

Humor ini mengingatkan kita untuk berhenti menjadi orang yang hanya suka mendengarkan khotbah atau seminar yang berbobot, tetapi tak pernah melakukan firman Tuhan yang didengar.

Berhenti menjadi orang yang fasih berbicara tentang hal-hal rohani, tetapi tak ada tindakan nyata. Berhenti menjadi orang yang pandai berteori, tetapi tak pernah mempraktikkannya.

Ada orang yang bangga dengan pengetahuannya tentang Tuhan dan hal-hal rohani. Namun, jika tidak dibarengi perbuatan nyata, semuanya sia-sia.

Sebab, di surga nanti kita tidak akan ditanya sejauh mana kita memahami Kitab Suci atau sejauh mana pengetahuan kita tentang agama. Kita tidak sekadar mempertanggungjawabkan apa yang kita ketahui, tetapi apa yang kita perbuat.

Tuhan menuntut buah-buah nyata yang bisa dirasakan, dinikmati, dan memberkati orang lain. —PK

Seribu perkataan dan pengetahuan tidak berarti, tanpa ada satu tindakan nyata.

* * *

Sumber: e-RH, 18/4/2011 (diedit seperlunya)

==========

08 Februari 2013

Sayap Rajawali

Di wilayah pegunungan Palestina hidup beberapa jenis burung rajawali. Ada rajawali biasa – spesies yang lazim. Ada rajawali emas dengan bulu berkilau. Ada pula rajawali tutul atau berbintik. Dan hidup juga rajawali pemangsa reptil.

Namun yang pasti, semua jenis burung rajawali suka terbang di ketinggian di mana angin berembus kencang. Maka, tak heran rajawali punya sayap yang kuat. Pada sayap itu terletak kekuatan rajawali.

burung rajawali

Akan tetapi, sayap rajawali tidak tiba-tiba menjadi kuat. Ada ceritanya.

Sejak kecil burung ini memang terlatih untuk terbang tinggi. Sang induk selalu menaruh sarangnya di tempat yang tinggi. Lalu jika sudah tiba saatnya, ia akan membongkar sarang itu, sehingga anak-anaknya "terjun bebas" di udara.

Mereka dipaksa untuk belajar terbang di tengah empasan angin kencang. Sementara sang induk melayang-layang di atas, sembari menjaga.

Jika mereka tidak mampu terbang lagi, sang induk akan melesat ke bawah untuk menopang mereka di atas kepak sayapnya. Seperti itulah Tuhan melatih umat-Nya, agar bertumbuh kuat dan dewasa dalam iman.

Acap kali orang hanya menaruh perhatian pada pertambahan. Tambah usia, gaji, pangkat, kekayaan, popularitas. Namun, mengabaikan pertumbuhan – tumbuh dalam iman dan kedewasaan. Padahal itulah yang menjadi perhatian Tuhan.

Tuhan mau kita bertumbuh. Bagai induk rajawali, Dia melatih kita di tengah empasan "angin" kesukaran dan tantangan hidup. Sebab, iman tidak tumbuh dalam kemudahan hidup, tetapi sebaliknya.

Dan, ketika Tuhan mengizinkan kesukaran terjadi, Dia tetap mengawasi sembari melatih iman kita agar bertumbuh. —PAD

Melalui kesukaran hidup, Tuhan melatih kita menjadi kuat dan siap dipakai-Nya untuk menjadi berkat.

* * *

Sumber: e-RH, 15/4/2011 (diedit seperlunya)

==========

07 Februari 2013

Mahkota Sang Juara

Di Singapura rutin diadakan perlombaan lari maraton. Seorang teman saya pernah berpartisipasi dalam kegiatan itu. Ia memang tidak menjadi juara, tapi sebagai peserta yang berhasil melewati garis akhir ia berhak mendapatkan sebuah baju yang menandakan keberhasilannya tersebut.

Baju itu mendatangkan kebanggaan tersendiri baginya. Ia mengakui, baju itu mengingatkannya bahwa segala kerja kerasnya, baik dalam mempersiapkan diri maupun selama menempuh perlombaan ternyata tidak sia-sia.

lari maraton Singapura

Hal serupa juga dirasakan oleh para atlet lomba lari jarak jauh sepanjang masa. Pada zaman dahulu, sang juara akan disemati sebuah mahkota yang membuatnya disanjung oleh seluruh masyarakat.

Demi mendapatkan mahkota tersebut, seorang atlet akan mati-matian berjuang menanggung segala kesusahan, baik selama ia mempersiapkan diri maupun saat ia mengikuti perlombaan yang sesungguhnya.

Seperti itulah kita seharusnya menjalani hidup sebagai orang percaya. Mahkota yang kita kejar jauh lebih mulia daripada mahkota yang tersedia bagi para atlet lomba lari itu.

Untuk memperolehnya, banyak kesusahan dan tantangan yang menghadang dan berusaha meruntuhkan iman kita. Tantangan iman kita bermacam-macam. Bisa berupa peristiwa buruk, penganiayaan dari orang yang membenci iman kita, argumentasi yang menyerang kepercayaan kita, dan sebagainya.

Berhadapan dengan semua itu, sepatutnya kita tetap setia memelihara iman hingga Tuhan memanggil kita pulang ke rumah-Nya. —Alison Subiantoro

Kesetiaan kita bertahan dalam perjuangan iman akan terbayar oleh kemuliaan mahkota yang kita terima.

* * *

Sumber: e-RH, 7/2/2013 (diedit seperlunya)

==========

04 Februari 2013

Kesempatan Kedua

Siapa yang tidak kenal penemu kenamaan Amerika, Thomas Alva Edison? Secara keseluruhan Edison telah menghasilkan 1.039 hak paten. Tentu itu merupakan prestasi luar biasa. Tetapi, ada sisi kemanusiaan yang menyentuh hati, yang unik, yang luput dari perhatian banyak orang.

Dikisahkan ketika itu Edison berada di tengah 12.000 percobaannya untuk mengembangkan bola lampu listrik. Ia menyerahkan sebuah bola lampu yang sudah rampung kepada seorang asistennya yang masih muda.

Pemuda itu membawanya dengan sangat hati-hati menaiki tangga langkah demi langkah. Sayang, pada langkah terakhir, bola lampu itu terjatuh dari tangannya dan pecah.

Bisa dibayangkan bagaimana kecewanya Edison pada waktu itu. Seluruh tim harus bekerja 24 jam lagi untuk membuat satu bola lampu yang baru.

Ketika bola lampu yang baru telah selesai dibuat, Edison memandang sekeliling dan sekali lagi ia menyerahkan bola lampu yang baru selesai dibuat itu kepada pemuda yang sama.

Edison tahu bahwa ada nilai yang dipertaruhkan lebih daripada sekadar bola lampu, yakni kepercayaan. Ya, Edison tetap memberikan kepercayaan kepada pemuda itu dengan memberinya kesempatan kedua.


Beranikah kita seperti Edison untuk memberi kesempatan kedua kepada anggota keluarga, sahabat, rekan kerja, bawahan, atasan kita setelah mereka melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan?

Beranikah kita juga memberi kesempatan kedua kepada diri sendiri setelah kita jatuh, melakukan kesalahan, tidak berhasil di tahun yang lalu?

Jika kita melihat perjalanan hidup kita selama ini, bukankah Tuhan juga memberi kita kesempatan, tidak hanya sekali dua kali, tetapi berkali-kali? Sudahkah kita menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya?

Akan ada saatnya, kesempatan itu tidak akan pernah datang lagi. Jadi, mari gunakan kesempatan yang ada selagi bisa. —Liana Poedjihastuti

If you’re lucky enough to get a second chance at something, don’t waste it. ~Unknown Quotes

* * *

Sumber: KristusHidup.org, 4/2/2013 (diedit seperlunya)

==========

03 Februari 2013

Menjadi “Manusia Baru”

Penggunaan energi nuklir sebagai sumber energi alternatif saat ini masih memicu kontroversi yang sengit. Pihak yang mendukung mengedepankan manfaat energi nuklir, antara lain untuk mengurangi polusi udara karena emisi karbonnya rendah.

Sebaliknya, pihak yang menentangnya menyoroti bahaya radiasi nuklir bagi manusia dan lingkungan. Ancaman bahaya semakin nyata bila manusia mengembangkan program senjata nuklir.

Energi nuklir, dengan demikian, benar-benar harus dikelola secara hati-hati dan bijaksana.

energi nuklir

Sebagai orang percaya kita juga harus bersikap bijaksana dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Kita dipanggil untuk hidup selayaknya “manusia baru”, yakni manusia yang mengenal Tuhan dan hidup bergaul dengan Dia.

Hidup sebagai “manusia baru” tak ayal (tak diragukan) mendatangkan berkat dan manfaat bagi sesama. Tetapi, sekalipun sudah diperbarui, kita masih dapat memilih untuk hidup dalam hawa nafsu dan keserakahan.

Pilihan yang buruk ini pada akhirnya mendatangkan pertikaian, fitnah, dan berbagai tindak kejahatan. Sebuah gaya hidup yang tidak pantas bagi seorang “manusia baru”, bukan?

manusia baru

Bagaimana kita belajar untuk hidup secara bijaksana dan berhati-hati? Dengan menyadari identitas kita sebagai “manusia baru”. “Manusia baru” bukanlah sumber bencana, melainkan sumber berkat bagi sesamanya.

Izinkanlah Roh Tuhan bekerja di dalam dan melalui kehidupan kita. Dia akan memampukan kita untuk mengasihi-Nya dan sesama sebagaimana Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita. —JRT

Kita dipanggil untuk menjadi berkat dan memelihara kehidupan, bukan untuk menghancurkan dan mendatangkan bencana.

* * *

Sumber: e-RH, 3/2/2013 (diedit seperlunya)

Judul asli: Berkat, bukan Bencana

==========

Artikel Terbaru Blog Ini