30 Desember 2012

Obituari

Sebuah koran pernah keliru memuat obituari Alfred Nobel, selagi ia masih hidup.

Yang meninggal sebenarnya adalah adik laki-laki Alfred. Namun, melalui kekeliruan itu, Alfred bisa melihat bagaimana orang lain menilai hidupnya, yaitu sebagai orang yang menjadi kaya dengan memungkinkan terjadinya pembunuhan massal.

Alfred Nobel

Memang, bahan-bahan peledak temuan Alfred akhirnya dibeli oleh pemerintah untuk produksi senjata.

Terguncang oleh obituari itu, Alfred lalu memutuskan untuk memakai kekayaannya guna memberi penghargaan terhadap upaya-upaya kemanusiaan, termasuk yang kita kenal sebagai Nobel Perdamaian.

Bayangkan jika seperti Alfred, kita mendapat kesempatan untuk membaca obituari kita. Bagaimana jika obituari itu dituliskan dari sudut pandang Tuhan?

Orang bisa saja tidak mengenal kita dengan cukup dekat untuk bisa menilai kita, tetapi tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan! Umat Tuhan tidak boleh hidup seenaknya seperti orang-orang yang tidak percaya pada hari penghakiman.

Tuhan tidak lalai terhadap janji-Nya, dan jelas Dia juga takkan lalai memerhatikan setiap detail kehidupan kita!

Selama kita masih hidup di dunia, kita masih diberi kesempatan untuk menyunting obituari kita. Akankah kita menginvestasikan hidup kita untuk hal-hal yang bernilai kekal?

Ataukah kita mencurahkan seluruh hidup dalam ambisi pribadi, hidup yang tidak bertanggung jawab, atau kewajiban agama yang kosong?

Menjelang akhir tahun, mari mohon hikmat Tuhan agar kita dapat membedakan apa yang akan binasa bersama dunia dan apa yang dihargai Tuhan dalam kekekalan. —ELS

* * *

Sumber: e-RH, 30/12/2012 (diedit seperlunya)

==========

Artikel Terbaru Blog Ini