13 Desember 2012

Hidup di Tepi Air

Ketika saya melintasi Kota Tegal di jalur Pantura, saya sering mampir di SPBU 67. Museum Rekor Indonesia memasukkan SPBU ini sebagai SPBU dengan fasilitas toilet terbanyak dan bersih.

Tersedia 15 kamar mandi / toilet wanita, 12 kamar mandi / toilet pria, dan 40 urinoir pria.

SPBU ini didirikan oleh Sintha Irawaty ketika sudah berusia 80 tahun. Tahun 2004 Museum Rekor Indonesia mencatat Nenek Sintha sebagai pengusaha tertua di Indonesia yang berhasil merintis bisnis SPBU.

Saat berusia 80 tahun, ada banyak orang yang sudah merasa renta, didera depresi, dan diretas bermacam penyakit, bahkan tidak sedikit yang rehat di panti wreda.

Waktulah yang menggiring kita menjadi tua. Tetapi menjalani masa tua tergantung penilaian kita terhadap panggilan hidup.

Apakah kita merasa sudah “habis” dalam kehidupan ini? Apakah kita sudah redup menjawab tantangan hidup? Apakah kita sudah berhenti untuk belajar tetap hidup?

Jika kita masih menjalani panggilan hidup, sesungguhnya kita tidak pantas merasa “habis”, tidak berguna, apalagi merasa terbuang. Seharusnya kita menjadi seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi sungai.


Dengan demikian kita akan hidup bagaikan pohon yang tidak terpengaruh oleh panas terik, yang daunnya tetap hijau. Pohon yang tidak khawatir hidup dalam tahun-tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Tentang menghasilkan buah, kita bisa memetik pelajaran dari kisah cengkeh Afo, hasil reportase Kompas.com edisi 4 Desember 2009. Cengkeh Afo ini merupakan pohon cengkeh tertua di dunia, terdapat di Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah, sekitar 6 km dari pusat Kota Ternate.

Pohon cengkeh Afo sudah berumur 416 tahun, memiliki tinggi 36,60 meter, garis tengah 1,98 meter, dan lingkar pohonnya mencapai 4,26 meter. Dan, yang paling mengagumkan, pohon ini masih menghasilkan sekitar 400 kg cengkeh setiap tahunnya.

Tetap berbuah meskipun sudah tua adalah kerinduan setiap orang. Tidak ingin “habis”. Terus berguna. Tidak menjadi sang mantan.

Raja Daud pun memiliki kerinduan yang sama, ia berseru kepada Tuhan, “Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.”

Jika kita berbuah, tentu saja kita harus memberikan faedah, tidak “merimbunkan” diri sendiri.

Tuhan pun telah menjamin kita: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

Jadi, jika kita benar-benar rindu untuk tetap berbuah, teruslah berpaut kepada Tuhan, menapaki jalan yang Tuhan arahkan, dan menjadi berkat bagi banyak orang. —Agus Santosa

Ada orang yang jam kehidupannya “berhenti” pada waktu tertentu dan tetap tinggal selamanya dalam waktu tersebut. ~Sante Boeve

* * *

Sumber: KristusHidup.org, 13/12/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Di Tepi Air

==========

Artikel Terbaru Blog Ini