17 November 2012

Sukses Tanpa Iri Hati

Kita sangat mengenal istilah “gaya katak” dalam dunia kerja. “Gaya katak” disematkan pada orang-orang yang suka menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisi dan mimpinya. Ia akan menyikut kanan kiri, menginjak bawahannya, lalu mendongakkan kepala untuk mendapatkan pujian atau jabatan.

Kita sangat marah dan jengkel kepada orang-orang yang melakukan “gaya katak”. Namun, bagaimana dengan perilaku dan kinerja kita sendiri?

Perilaku kita mungkin tidak separah orang yang mempraktikkan “gaya katak”, tetapi mungkin kita mengusung semangat “iri hati” dalam mengejar karier. “Iri hati” menjadi dasar kita untuk meraih kesuksesan dalam dunia kerja.


Kita bersaing karena ingin jabatan yang lebih tinggi dari orang lain. Kita berprestasi karena ingin kursi yang lebih empuk dari orang lain. Kita bekerja dengan keras supaya jabatan tetap aman dan tidak kalah oleh orang lain. Kesuksesan yang kita genggam adalah hasil dari rasa “iri hati” dan ambisi tidak mau kalah dari yang lain.

Sebagaimana ditulis oleh Salomo (Nabi Sulaiman): “Aku tahu juga bahwa manusia bekerja begitu keras, hanya karena iri hati melihat hasil usaha tetangganya. Semua itu sia-sia belaka seperti usaha mengejar angin.”

Tanpa sadar kita sering terjebak dalam nafsu egoisme yang berorientasi pada kepentingan diri sendiri. Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Kita dipanggil untuk tidak larut dalam persaingan dunia kerja yang penuh intrik dan keegoisan, melainkan diajarkan untuk tetap tenang bersama Tuhan.

Kita tidak ikut-ikutan orang yang mengejar karier dengan “gaya katak”, tidak iri hati kepada mereka, dan tidak jatuh dalam semangat “iri hati” yang egois.

Kita melakukan segala tugas pekerjaan dengan baik, bukan sekadar mengejar jabatan dan niat untuk tidak kalah dari orang lain, melainkan menunaikan tugas panggilan dari Tuhan.

Kita menghasilkan kinerja yang bagus, bukan semata-mata untuk diri sendiri dan perusahaan, melainkan untuk kemuliaan Tuhan. Kita meraih kesuksesan bukan karena iri hati, namun berdasarkan keyakinan dan keberserahan kepada Tuhan. —N. L. Utomo

Kesuksesan lahir bukan dari rasa iri hati, melainkan karya dan upaya yang terbaik untuk menyenangkan hati Tuhan.

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 17/11/2012 (diedit seperlunya)

==========

Artikel Terbaru Blog Ini