01 November 2012

Masalah

Masalah itu seperti debu yang beterbangan di udara. Ada miliaran butir debu yang lembut mengambang di udara. Terlihat jelas saat kita menerawang, atau ketika terang matahari menyinari gugusan debu.

Sungguh menakjubkan, butiran-butiran debu itu tidak memedihkan mata, juga tidak menyesakkan napas. Tuhan seakan telah memasang imunitas yang membuat mata dan napas kita prima, tidak rentan oleh debu.

Tentu mustahil kita hidup terbebas dari debu-debu lembut di sekitar kita. Dan seperti debu di udara, juga mustahil kita hidup bersih dari masalah. Selama hidup ini masih melaju, kita tidak mungkin steril dari masalah. Jangan lari atau sembunyi, kita harus berani menghadapi setiap masalah yang menghadang kita.


Janganlah naif, takut, atau masa bodoh, tetapi juga jangan terlalu hanyut dan panik saat menghadapi masalah. Seberat apa pun tekanan dan setegang apa pun prosesnya, setiap masalah harus dihadapi dengan berani, jangan pengecut!

William Hasley mengatakan, “Setiap masalah menjadi lebih kecil apabila kita tidak menghindarinya melainkan menghadapinya. Sentuhlah tanaman widuri, maka tanaman itu akan menusuk kita, remaslah dengan berani, maka durinya pun remuk.”

Ketika kita berani menghadapi masalah, itu sekaligus cara terbaik untuk memaksimalkan potensi diri kita. Ada pernyataan James Bilkey yang bijak, katanya: “Kita tidak akan pernah menjadi orang yang maksimal jika tekanan, ketegangan, dan disiplin dicabut dari hidup kita.”

Tekanan dan ketegangan dari setiap masalah akan menguji iman, dan iman yang teruji akan melahirkan ketekunan. Akhirnya, ketekunan akan memaksimalkan potensi diri kita, menjadi sempurna.

Tentang ketekunan, kita bisa belajar dari tradisi rumah tangga di Jepang. Konon, sebelum menggunakan mangkok keramik tradisional yang masih baru, para ibu di Jepang memiliki kebiasaan unik. Mereka terlebih dahulu akan mengauskan bagian bawah mangkok yang masih kasar, tujuannya agar tidak menggores permukaan meja.

Caranya, dengan menggosok-gosokkan “pantat” dua buah mangkok yang masih baru secara hati-hati dan tekun, sampai bagian itu halus. Inilah proses pengausan yang dalam tradisi Jepang disebut suri-awase, melembutkan yang kasar dengan tekun dan hati-hati.

Ada fase suri-awase yang harus kita jalani saat menghadapi masalah, yaitu tekun dan hati-hati. Perlahan dan pasti kita harus berani mengauskan setiap masalah dalam hidup ini.

Marilah mengenali dan menelisik masalah kita dengan tekun, hati-hati, dan dalam pimpinan Tuhan. Sudahkah tepat pandangan dan sikap hati Anda dalam mengambil keputusan? Semoga Anda mencapai solusi terbaik. —Agus Santosa

Di dalam setiap masalah ada benih solusinya sendiri. Jika Anda tidak mempunyai masalah, Anda tidak mempunyai benih apa pun. —Norman Vincent Peale

* * *

Sumber: KristusHidup.com, 1/11/2012 (diedit seperlunya)

Judul asli: Suri-Awase

==========

Artikel Terbaru Blog Ini