15 September 2010

Kita yang Harus Berubah

Seorang raja berjalan-jalan untuk melihat keadaan kerajaan yang dipimpinnya. Tak jauh dari istana, kakinya terluka karena batu-batu tajam yang menembus sepatunya.

Sang raja pun berkata, “Jalan ini sangat buruk, kita harus segera memperbaikinya agar kakiku tidak terluka lagi. Jalan ini harus dilapisi dengan kulit sapi terbaik.”

Maka segeralah diumumkan ke seluruh kerajaan agar dilakukan persiapan pembangunan jalan dengan mengumpulkan lembaran-lembaran kulit sapi.

Seorang bijak yang kebetulan berada di kerajaan tersebut berkata kepada raja, “Tuanku, daripada merencanakan proyek yang besar dan menyusahkan rakyat, bukankah akan lebih mudah jika Tuanku melapisi sepatu Tuanku dengan kulit sapi? Jadi, Tuanku hanya memerlukan paling tidak selembar kulit sapi.”

Tidak jarang kita berpikir dan bertindak seperti raja di atas. Bukankah sering kali kita menuntut agar semua orang berubah demi kenyamanan kita? Kita tidak suka terhadap sikap suami, kita mengeluh dengan kebiasaan istri, kita mencela tindakan anak kita, kita menjadi stres atas perlakuan teman, dll.

Semua kekesalan ini mendorong kita untuk mengeluh dan menceritakannya kepada orang-orang dekat yang kita temui. Kita mulai menularkan sikap negatif yang akhirnya menyusahkan banyak orang. Padahal dengan sedikit mengubah diri kita saja, sudah cukup mengatasi masalah yang ada.

Kita harus dapat saling menerima sebagaimana Tuhan juga sudah menerima kita. Saling menerima artinya kita tidak lagi menuntut agar orang lain yang berubah.

Kita lebih sering menganggap diri sendiri yang paling benar dan orang lainlah yang salah, sehingga kita berharap agar merekalah yang berubah. Padahal tidak selamanya penilaian kita benar. Mungkin saja diri kitalah yang menyimpan ketidakberesan.

Kita perlu mengoreksi diri sendiri secara jujur, bahwa kita pun penuh kelemahan dan masih perlu dibentuk dalam banyak hal.

Keterbukaan untuk dikoreksi dan kesediaan untuk berubah akan menolong kita untuk semakin dewasa di dalam Tuhan. Tetapi jika kita sudah terlebih dahulu membentengi diri dengan pendapat bahwa kitalah yang paling benar, maka kita akan tetap berada dalam kelemahan kita.

Setiap hari biarlah kita meminta agar Tuhan memberikan kemampuan kepada kita untuk berubah, jika kita memang perlu berubah.

Sekarang bukan waktunya lagi untuk melihat kelemahan orang lain, mengumpat, atau menghakimi mereka. Kini saatnya kita menata diri sendiri agar semakin sempurna dalam pandangan Tuhan.

Mintalah agar Tuhan menunjukkan kekurangan kita, sehingga kita bisa berubah. Sebuah ungkapan mengatakan, “Ubahlah diri Anda terlebih dahulu, maka orang lain akan berubah.”

-----

Kata-kata bijak:
Lebih mudah mengubah diri sendiri daripada mengubah orang lain.

* * *

Sumber: Manna Sorgawi, 15 September 2010 (diedit seperlunya)

Di-online-kan oleh Paulus Herlambang.

==========

Artikel Terbaru Blog Ini