23 September 2010

Kartu Kuning dan Merah

Ketika itu pertandingan perempat final antara Inggris melawan Argentina dalam Piala Dunia tahun 1966.

Wasit dari Jerman, yakni Rudolf Kreitlein memutuskan mengeluarkan kapten kesebelasan Argentina, Antonio Rattin, karena melanggar peraturan. Tetapi Rattin tidak paham dengan maksud wasit tersebut dan tidak segera meninggalkan lapangan.

Ken Aston, seorang hakim garis dari Inggris lalu masuk lapangan. Dengan sedikit kemampuan berbahasa Spanyol, dia memberi tahu Rattin agar meninggalkan lapangan karena wasit memutuskan seperti itu. Wasit mengalami kesulitan karena hanya tahu bahasa Jerman dan Inggris, dan tidak tahu bahasa Spanyol.

Setelah peristiwa itu, Ken Aston lalu berpikir bagaimana caranya agar dapat mengatasi kendala komunikasi seperti yang dialaminya.

Suatu saat, ketika melihat lampu pengatur lalu lintas (traffic light) di perempatan, timbul ide dalam dirinya: baik juga kalau wasit dibekali dengan dua buah kartu ketika memimpin pertandingan, kuning dan merah. Kartu kuning untuk sanksi atas pelanggaran ringan dan kartu merah untuk sanksi pelanggaran berat dan pemain harus keluar dari lapangan. Ide itu diterima oleh FIFA.

Pada Piala Dunia tahun 1970, kartu kuning dan merah untuk pertama kalinya digunakan. Ide ini lalu diadopsi oleh cabang olahraga hoki. Bahkan, cabang olahraga ini memakai tiga kartu seperti traffic light. Hijau untuk peringatan, kuning untuk mengeluarkan pemain sementara waktu, dan merah untuk mengusir pemain secara permanen.

Ada tiga pelajaran penting dari sejarah penemuan kartu kuning dan merah ini, yaitu:

Pertama, setiap kesulitan seharusnya “memancing” seseorang untuk berpikir.
Tuhan menciptakan pikiran di dalam diri manusia agar manusia mampu menciptakan peluang-peluang dalam setiap keadaan, termasuk dalam situasi yang sulit.

Janganlah kita cepat putus asa ketika menghadapi kesulitan, tetapi tenanglah dan berpikirlah. Hambatan sering kali berarti bahwa kita harus berpikir lebih keras, lebih baik, dan lebih kreatif.

Kedua, ide untuk mendapatkan jalan keluar biasanya ada di sekitar kita.
Biasanya hal-hal kecil dan sederhana di sekitar kita, kurang kita perhatikan. Padahal, Tuhan dapat memakai hal-hal tersebut untuk memberikan ide kepada kita sehingga kita bisa mendapatkan jalan keluar untuk setiap masalah yang kita hadapi.

Sebagai contoh, raja Hizkia yang hidup pada zaman dahulu disembuhkan dari penyakit bisul bernanah-nya hanya dengan sebuah kue ara. Buah ara memiliki banyak khasiat, di antaranya mengandung unsur “benzaldehyde” dan “coumarins” yang menjadi bahan anti kanker dan tumor.

Di samping itu, benzaldehyde juga untuk merawat kulit. Tentu kita percaya bahwa dalam kasus raja Hizkia, campur tangan Tuhan yang ajaib juga terjadi.

Ketiga, apa yang kita hasilkan dari “pemerasan” otak kita, pasti berguna bagi sesama.
Mari kita mulai mewujudkan apa yang sudah kita pikirkan, jangan ditunda-tunda. Cepat atau lambat, karya kita akan menjadi berkat bagi orang lain.

-----

Doa:
Tuhan, aku yakin bahwa setiap kendala pasti ada jalan keluarnya. Mampukan aku memakai pikiranku semaksimal mungkin untuk menemukan ide baru. Amin.

Kata-kata bijak:
Tuhan akan menolong kita ketika kita mau berpikir dan mewujudkan apa yang kita pikirkan.

* * *

Sumber: Manna Sorgawi, 23 September 2010 (diedit seperlunya)

Judul asli: Traffic Light dan Kartu Kuning-Merah

Di-online-kan oleh Paulus Herlambang.

==========

Artikel Terbaru Blog Ini