18 Juni 2010

Cara Menilai Orang

Seorang pemuda mendatangi kediaman kakek yang dikenal sangat bijak. Sang kakek tinggal di lereng gunung, di gubuknya yang sederhana.

Meskipun sang kakek memiliki banyak tanah dan harta, tetapi ia memilih untuk tinggal di gubuk sederhana. Penampilannya pun sangat sederhana dengan baju dan celana yang juga sederhana.

Karena penasaran anak muda itu bertanya, “Kakek, saya tidak habis pikir mengapa kakek memilih untuk berpenampilan seperti ini. Padahal di zaman sekarang, orang berlomba-lomba untuk memiliki penampilan yang baik.”

Sambil tersenyum, sang kakek melepaskan cincin yang melingkar di jarinya dan menyerahkannya kepada si pemuda.

“Bawalah cincin ini ke pasar dan juallah dengan harga satu keping emas,” kata sang kakek.

“Aduh Kek, bagaimana mungkin orang mau membeli cincin ini dengan satu keping emas? Cincin ini kelihatannya tidak berharga,” kata si pemuda.

“Cobalah tawarkan kepada yang lain,” jawab sang kakek.

Sambil mengantongi cincin tersebut, si anak muda bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada penjual ikan, pedagang sayur, dan para pedagang buah. Tetapi mereka hanya menertawakannya seraya berkata, “Tak akan ada orang yang mau membeli cincin jelek ini dengan satu keping emas.”

Maka pulanglah pemuda itu menemui sang kakek. “Benar kan Kek, tidak ada orang yang mau membeli cincin ini dengan satu keping emas,” katanya.

“Kepada siapa engkau menawarkannya?” tanya sang kakek.

“Penjual ikan, penjual sayur, dan penjual buah,” jawab si pemuda.

“Sekarang, pergilah tawarkan cincin ini ke toko emas di pusat kota. Kau tidak perlu membuka harga,” perintah si kakek.

Pemuda itu pun segera berangkat. Tak lama berselang, ia pulang menemui si kakek.

“Kek, ternyata orang-orang di pasar tidak tahu menilai barang yang mahal. Pemilik toko emas yang kudatangi memberi harga sepuluh keping emas untuk cincin ini,” katanya.

“Sekarang pertanyaanmu terjawab sudah,” ujar sang kakek.

Kita tidak bisa menilai seseorang dari pakaiannya. Hanya pedagang ikan, sayur, dan buah yang memiliki penilaian demikian, tetapi pedagang emas tidak.

Oleh karena itu, jangan pernah menilai orang berdasarkan penampilan fisik mereka, karena itu adalah filosofi dunia. Jangan pula menentukan nilai diri anda berdasarkan mewahnya tempat tinggal, pakaian, dan penampilan fisik anda, karena Tuhan tidak pernah menilai anda berdasarkan itu.

Tuhan melihat kedalaman hati seseorang, Ia melihat sikap hati dan apa yang anda pikirkan. Begitu banyak orang yang memiliki pola penilaian yang salah, baik terhadap sesama maupun terhadap diri sendiri.

Mulai sekarang, marilah menilai segala sesuatu berdasarkan penilaian Tuhan, sehingga anda akan mengejar apa yang bernilai bagi Tuhan dan bukan apa yang bernilai bagi manusia. Dengan demikian, anda akan mendapatkan penghargaan yang layak dari Tuhan.

-----

Kata-kata bijak:
Jangan berusaha agar anda layak di hadapan manusia, karena belum tentu anda layak di hadapan Tuhan.

* * *

Sumber: Manna Sorgawi, 18 Juni 2010 (diedit seperlunya)

Judul asli: Cara Penilaian Tuhan

Di-online-kan oleh Paulus Herlambang.

==========

Artikel Terbaru Blog Ini